Demonstrasi, Masuk Akalkah?

Pertanyaan:

Bagaimana menghadapi saudara muslim lainnya yang selalu berlogika bahwa demonstrasi itu masuk akal, tidak menentang agama, dan dibolehkan? Demonstrasi terkesan masuk akal?

Jawaban:

Sebenarnya tidak masuk akal. Hanya orang yang tak berakal yang berdemonstrasi. Maksudnya akal budi manusia itu dituntut untuk melihat demonstrasi itu tidak akan mau karena akan merendahkan harkat martabat manusia itu sendiri. Kalau manusia punya akal yang sahih dan salih, maka ia tidak mau berdemonstrasi. Antum lihat, apakah ada orang berdemonstrasi sendirian di jalan? Sambil jingkrak-jingkrak, jungkir-balik sendirian, apakah ada? Apakah ada mahasiswa yang berani berdemonstrasi sendirian? Apakah ada? Kalau ada, paling cuma satu atau dua. Tapi kalau orang mau mencoba sendirian,kan tidak rame. Mengapa? Karena dia malu kalau sendirian. Mengapa antum tidak sendirian saja? Pakai spanduk di sini dan di sini, jalan sendirian, orang akan mengatakan apa tentang di? Ya, dikatakan gila. Hal itu berarti, akal budi manusia tidak menerima. Kalau beramai-ramai, kan tidak ketahuan kalau semuanya gila, tidak nampak kalau dia gila karena ada temannya. Coba suruh sendirian, tidak ada yang berani, termasuk yang berdemonstrasi di bundaran HI, lalu lari, teriak-teriak pakai pengeras suara, maka tak ada yang mau karena umumnya manusia mau berdemonstrasi kalau beramai-ramai, tak ada yang mau kalau sendirian. Hal itu menunjukkan bahwa akal manusia tak menerima, dia tak akan mau dan tak berani, umumnya seperti itu. Tapi kalau yang bukan demonstrasi, yaitu jika orang mau mengajukan suatu hal, kemudian dia datang sendiri secara intelektual, secara sembunyi-sembunyi, dia datang untuk berbicara dengan baik, maka orang akan berani, tapi kalau demonstrasi seperti cara2 yg sekarang ini justru akal budi manusia tidak menerimanya secara akal apalagi secara agama. Jelaslah bahwa itu sifat-sifat atau orang kafir, bahkan anehnya orang-orang barat di Amerika sdh mulai meninggalkan cara-cara seperti demonstrasi. Jadi, kita ini sedang rakus-rakusnya terhadap demonstrasi. Semuanya diselesaikan dengan berdemonstrasi. Orang sekarang jika berbicara tentang din (agama) juga dengan berdemonstrasi. Saya membayangkan, kalau melihat orang berdemonstrasi di Jakarta, hampir tiap hari ada demonstrasi. Orang-orang tertawa melihatnya. Dulu di bunderan HI, gedung MPR, menceburkan diri ke air, itu kan seperti anak kecil, karena kalau anak kecil memang mungkin menceburkan diri ke air. Sehingga sangat tidak pantas dan malu melihatnya bagi orang-orang yang berakal. Jadi, demonstrasi itu tidak masuk akal, tapi sekarang malah terbalik, mungkin akalnya yang tidak beres. Coba saja berdemonstrasi sendirian, pasti malu kan? Akal budi manusia tidak berani, karena takut dan malu. Manusia punya naluri dan akal budi yang menghalanginya bertindak sesuatu seperti demonstrasi karena dia memiliki rasa malu. Apalagi agama kita mengajarkan tentang malu: “al hayaau minal iimaan” (malu itu adalah sebagian dari iman). Apalagi mahasiswa yang katanya calon intelektual, masa tindakannya seperti itu (berdemonstrasi)? Kalau untuk anak TK (Taman Kanak-kanak) mungkin saja. Masya Alloh, demonstrasi!

Disadur dari: Kajian Ust. Abdul Hakim bin Amir Abdat (dengan sedikit perubahan dan pengaturan kata)

~ oleh abumochas pada April 22, 2008.

2 Tanggapan to “Demonstrasi, Masuk Akalkah?”

  1. iya ,,stuju…stuju…
    demonstrasi yg katanya dari oleh dan untuk rakyat?
    mana bisa keinginan dari sekian banyak rakyat disatukan?
    lebih tepatnya demokrasi = dari, oleh, dan untuk penguasa

  2. Demonstrasi di negeri ini menjadi hal yang sia-sia. Capek2 berdemontrasi, pejabat yang didemo malah tak menggubris sama sekali. Mereka santai2 saja memikirkan perut mereka sendiri. Eh. klo dijaman Rasul ada gak ya yg berdemontrasi? atau pake cara lain untuk mengaspirasikannya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: