Meneropong Ayat-ayat Cinta

•September 17, 2008 • 8 Komentar

Ditulis oleh: Ummu Abdirrahman

Novel Ayat-Ayat Cinta, seperti layaknya wabah, tengah menyerang siapa saja. Novel ini sangat digandrungi, dan gemanya begitu “membumi”. Banyak kalangan antusias mengomentari kehadirannya. Apalagi “sisi religius” banyak diungkap di novel ini.

Akan tetapi, benarkah novel ini begitu “religius” sebagaimana yang disangka orang? Tak dipungkiri, novel ini memanjakan pembacanya dengan banyak simbol iman dan ketaatan yang terasa kuat. Nah, justru hal inilah yang membuat banyak dari kita lengah dan “kecolongan”. Lho, kok bisa?

SEBERAPA “AMANKAH” AYAT-AYAT CINTA?

Novel fiksi Ayat-Ayat Cinta tengah membius masyarakat kita. Fenomena ini kemudian diiringi dengan diangkatnya novel ini ke layar lebar, makin boominglah Ayat-Ayat Cinta, apalagi orang kadang menjulukinya novel dan film religius, paling religius, untuk saat ini. Inilah masalahnya.

Hal ini justru mendatangkan permasalahan yang tak bisa dibilang ringan. Sebab bisa menggiring kita untuk melegalkan hal yang sebelumnya dianggap tabu. Bukannya menganggap novel ini tak berisi hikmah dan makna, atau sama sekali tak mengandung pelajaran dan faidah. Tapi menyandingkan 2 hal, yang hak dan batil dalam satu wadah inilah yang patut disayangkan. Begitu pula novel ini.

Untuk Habiburrahman yang notabene sarjana Jebolan Al-Azhar, tentu tahu betul syariat. Misalnya; tokoh Fahri yang dilukiskan mumpuni ilmu agamanya dan religius –dalam arti ia paham ilmu agama– menghadiri acara ulang tahun. Satu hal yang seharusnya tak terjadi, apa pun alasannya. Sebab budaya ulang tahun tak sesuai dengan ajaran Islam dan itu di luar konsep din mulia ini. Sebab dengan tegas Rasulullah melarang kita untuk meniru atau mengikuti perbuatan dan kebiasaan orang-orang kafir.

Rasulullah n bersabda,

“Barangsiapa menyerupai atau meniru suatu kaum, maka dia termasuk golongan mereka.”

Islam jelas berbeda. Jika ulang tahun bukan suatu yang haram tentu Rasulullah n telah mencontohkannya. Namun pada kenyataannya Rasulullah dan sahabat-sahabatnya tak satu pun yang melakukannya. Dan tentunya penulis tahu, ulang tahun mengandung unsur foya-foya dan menghamburkan harta untuk sesuatu yang tak bermanfaat. Padahal Islam mengajarkan untuk hidup sederhana dan tidak isyraf (berlebihan).

“….. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (Al-A’raf: 31)

Allah juga berfirman,

“Sesungguhnya para pemboros itu adalah saudara-saudara setan.” (Al-Isra’: 27)

Orang-orang yang masih awam tentu akan menganggap ulang tahun sesuatu hal yang sah-sah saja untuk dilakukan, begitu juga halnya melihat drama opera, atau pertunjukan musik/nasyid. Tak ada maksud menghilangkan niat baik novel ini ditulis, tapi ini menyangkut sesuatu yang bersifat baku. Sebagaimana diungkapkan Ibnu Mas’ud:

Berapa banyak orang berniat baik tetapi tidak mendapatkan kebaikan tersebut.”

(Riwayat Ad-Darimi dalam Sunannya nomor 210, dishahihkan oleh Al-Albani)

Akan sangat kasihan jika kita bakal menyaksikan banyak orang menjadi kecolongan karena hal ini. Belum lagi jika nonton filmnya, yang lebih banyak pelanggaran syariat di dalamnya. Kalau benar-benar tak waspada bakal makin panjang “korbannya”. Jadi tak ada salahnya kalau kita mengukur seberapa “amankah” Ayat-Ayat Cinta untuk dibaca dan ditonton?

CERITA FIKSI DALAM KACAMATA ISLAM

Menyoal novel atau filmnya yang katanya sangat bagus, membangun, menyentuh dan segudang pujian, itu soal lain. Lalu bagaimana Islam memandang hal ini (kisah fiksi, novel, film dan sejenisnya) meski dapat membantu dan mendatangkan manfaat?

Seperti kita tahu, akhir-akhir ini di tengah masyarakat kita banyak bermunculan buku-buku yang berisi cerita fiksi, cerita pendek, ataupun novel berlabel “Islam”. Buku-buku seperti ini dijual dan dapat dikonsumsi secara bebas oleh berbagai kalangan. Bermunculan pula film-film ataupun sinetron berlabel islami yang banyak diangkat dari buku-buku atau cerita rekaan.

Mengutip penjelasan dari Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan mengenai hal ini (silahkan lihat rubrik “nasihat ulama” edisi ini), beliau menegaskan bahwa kisah-kisah fiksi seperti ini termasuk kedustaan yang hanya menghabiskan waktu si penulis dan pembaca tanpa memberi manfaat. Jadi lebih baik seseorang tidak menyibukkan diri dengan perkara ini. Hukumnya haram, jika kegiatan menulis dan membaca kisah fiksi ini membuat kita lalai dari perkara yang hukumnya wajib. Beliau menambahkan, dan bila kegiatan ini melalaikan seseorang dari perkara yang hukumnya sunnah maka kegiatan ini menjadi makruh. Beliau menegaskan, dalam setiap kondisi, waktu bagi seorang muslim sangatlah berharga, jadi bagi dirinya tidak boleh untuk menghabiskan waktu demi perkara yang sia-sia dan tak ada manfaatnya.

Fatwa beliau yang lain menyoroti masalah hukum sandiwara/film serta nasyid-nasyid islami. Beliau mengatakan tidak boleh, sebab sandiwara melalaikan orang yang menyaksikan, ada unsur peniruan individu, dan meremehkan yang ditiru, dan yang berbahaya adalah meniru pribadi orang kafir. Dakwah dengan cara ini dilarang karena tidak ada contoh dari Rasulullah, merupakan perkara negatif dan tidak ada faidahnya sedikit pun.

Fenomena munculnya buku-buku, majalah-majalah yang tidak mendidik, kaset video dan nyanyian/nasyid, sangat perhatian terhadap acara film, sinetron dan sebagainya memberi dampak baru berupa merebaknya fenomena i’jab (sikap mengidolakan). Seperti inilah yang kita alami saat ini, dan hal ini dapat sangat kita rasakan. Novel, film juga tokoh Ayat-Ayat Cinta telah membuat hati banyak orang terbius mengidolakannya. Bahkan kadang terasa berlebihan, kesenangan dan kecintaan seperti ini tidak diperbolehkan karena membuat hati seseorang lalai dan bergantung pada selain Allah.

TAK ADA GADING YANG TAK RETAK

Sebenarnya ada hal-hal menarik dalam novel ini. Seperti permasalahan hidayah dan poligami. Poligami adalah satu hal yang banyak terjadi dalam kehidupan sehari-hari masyarakat kita dan itu bukan hal aneh, tapi orang masih banyak menganggap miring keberadaannya.

Novel ini bisa dikatakan “berhasil” mengusung masalah poligami. Poligami yang masih jadi pro dan kontra, terasa hikmahnya di novel ini. Tak ada kesan poligami itu menyakitkan dan menakutkan, apalagi menzhalimi wanita. Penulis bisa meyakinkan pembaca, bahwa poligami jika dilakukan sesuai aturan syar’i justru bisa mendatangkan manfaat dan kebaikan yang lebih banyak.

Tak kalah menarik, ketika Habiburrahman menyentil kita dengan seorang Maria. Seorang non muslim yang justru hafal beberapa surat dalam al-Quran. Ini mengusik. Sebab kadang sebagai muslim kita belum tentu bisa melakukannya tanpa tekad yang kuat.

Permasalahan hidayah atas seseorang juga turut menghangatkan karya ikhwan yang pernah nyantri di kota wali ini. Hidayah dan pemahaman yang benar atas dien mulia ini berasal dari Allah l. Hidayah itu bisa datang dan pergi atas kehendak-Nya. Bisa saja seseorang menjadi muslim di pagi hari, tapi menjadi kafir di sore hari. Sebaliknya seorang kafir di sore hari, bisa pula ia mendapati dirinya menjadi muslim di pagi hari.

Meski novel ini tampak “Mengusung Islam”, yang perlu dicatat kisah di dalamnya hanyalah fiktif dan rekaan belaka. Ada yang lebih layak kita idolakan dan teladani, dari sekadar tokoh dan kisah fiksi. Teladan sempurna tiada dua, Rasulullah n, juga teladan dan hikmah dari kisah sahabat-sahabat dan orang-orang shalih. Memang tak ada gading yang tak retak. Tanpa mengurangi rasa hormat, tanpa maksud tak menghargai sebuah karya, akan terasa lebih banyak manfaatnya kalau saja yang ditulis adalah buku yang lahir dari ilmu yang haq di atas ketegaran syariat. Insyaallah, akan lebih berguna dan berkah.

Bukan sekadar novel dan kisah fiksi yang telah jelas hukumnya.

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (At-Taubah: 71)

Disadur dari: http://www.majalah-nikah.com

Yaa Ukhti.. Jagalah Lisanmu!

•September 17, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“Allah telah melimpahkan nikmat-Nya atas kalian yang lahir maupun yang bathin..” (Luqman: 20)

Termasuk dari nikmat Allah yang di anugerahkan kepada kita ialah lisan. Allah Ta’ala memuliakan hamba-Nya dengan sebab lisan tersebut, dan lisan juga digunakan sebagai alat untuk mengungkapkan apa yang ada didalam hati.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“Dia Allah yang Maha Pengasih. Yang telah mengajarkan Al Qur’an. Dia menciptakan manusia. Mengajarkannya pandai berbicara”. (Ar-Rahman: 1-4)

Dan Allah ‘Azza Wa Jalla mengingatkan nikmat-Nya terhadap hamba-Nya. Ketika Allah menciptakan lisan bagi hamba-Nya; sebagaimana dalam firman-Nya:

“Bukankah kami telah menciptakan bagi manusia itu dua mata. Dan kami menciptakan pula satu lisan dan dua bibir”.

Lisan terkadang dapat mengangkat derajat si pemilik lisan tersebut kepada derajat yang paling tinggi. Dan akan terealisir yang demikian ini, ketika lisannya digunakan dalam perkara-perkara yang baik seperti berdoa kepada Allah, membaca al-qur’an, atau untuk kepentingan dakwah dijalan Allah, mengajarkan ilmu dan semisalnya. Dengan kata lain digunakan kepada apa yang diridhai oleh Allah ‘Azza Wa Jalla.

Namun lisan juga terkadang dapat menjerumuskan si pemilik lisan tersebut kepada tingkatan yang paling rendah. Dan akan terjadi yang demikian ini ketika lisan tersebut dilepaskan kepada perkara yang tidak diridhai oleh Allah ‘Azza Wa Jalla.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala menceritakan tentang penduduk surga; ketika mereka bertanya kepada penduduk neraka, dalam firman-Nya:

“Apa yang menyebabkan kamu masuk kedalam neraka Saqar?. Mereka menjawab: dahulu kami bukan termasuk orang-orang yang mendirikan shalat. Dan kami juga tidak memberikan makan orang miskin. Bahkan kami suka berbincang-bincang (yang tidak dimengerti), bersama orang-orang yang membicarakannya”. Dan kami mendustakan tentang adanya hari kiamat. Sampai datang kepada kami kematian”. (Al Muddatstsir: 42-47)

Sisi pendalilan dari ayat tersebut diatas ialah bahwa duduk berbincang-bincang dalam perkara yang tidak dimengerti (asbun/ngrumpi); menjadi salah satu sebab yang mengantarkan seseorang masuk neraka.

Berkata Ibnu Katsir dalam menafsirkan Firman Allah Ta’ala (Al Muddatstsir: 45): “Bahkan kami suka berbincang-bincang (yang tidak dimengerti) bersama orang-orang yang membicarakannya”. Yakni kami suka berbincang-bincang dalam perkara yang kami tidak mengetahuinya.

Berkata Qatadah bin Di’amah As Sadusi (Imam dari kalangan Tabi’in) dalam menafsirkan ayat ke 45 dari surat Al Muddatstsir tersebut: “Bahwasanya menjadi sesat orang yang sesat, kamipun sesat bersamanya”.

Dalam Shahih Al-Bukhari termaktub riwayat dari Abu Hurairah bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Aalihi Wasallam bersabda:

“Sesungguhnya seorang hamba ketika berkata dengan suatu perkataan yang mendatangkan ridha Allah; dan dia tidak menyadari bahwa perkataannya tersebut dapat mendatangkan ridha Allah, maka Allah akan mengangkat derajatnya dengan beberapa derajat. Dan adapula seorang hamba ketika berkata dengan suatu perkataan yang dibenci oleh Allah; dan dia tidak memikirkan bahwa perkataannya tersebut dapat mengundang kemurkaan Allah, maka Allah akan mencampakkan dia ke neraka jahannam”. (juga diriwayatkan oleh Imam Muslim 4/2290 dengan makna yang serupa)

Menjaga Lisan Termasuk Kesempurnaan Islam

Al Imam Al Bukhari 1/53 dan Al Imam Muslim 1/65 meriwayatkan (dan ini lafadz Al Bukhari) hadits dari Abdullah Bin ‘Amr Bin Al-‘Ash, bahwasanya Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Aalihi Wasallam bersabda:

“Seorang muslim itu ialah yang berhasil menyelamatkan saudaranya sesama muslim (Al-Muslimuun dalam lafadz arabnya) dari kejahatan lisannya dan tangannya”.

Al Hafidz Ibnu Hajar Al ‘Asqalani Rahimahullah dalam Fathul Bari menerangkan penggunaan kata Al-Muslimuun dalam riwayat tersebut diatas:

“Disebutkannya kata Al-Muslimuun dalam hadits tersebut karena keluar dari keumuman keadaan manusia. Dan memelihara kehormatan seorang muslim dengan cara menahan gangguan terhadapnya merupakan kewajiban yang disebutkan dengan penegasan kalimat yang lebih keras. Walaupun dalam hal ini orang-orang kafir diperangi, namun ada dari golongan mereka yang diwajibkan bagi kita untuk menahan diri daripadanya (yakni kafir Dzimmi). Kemudian dibawakan dalam hadits tersebut dengan menyebutkan Jama’ Mudzakkar Saalim (kata yang menunjukkan bilangan banyak -plural- untuk laki-laki; yakni kata Al-Muslimuun: pria-pria muslim) karena menunjukkan bahwa keumumannya demikian. Dan sesungguhnya wanita-wanita muslimah juga masuk dalam kategori Al-Muslimuun pada hadits tersebut.

Nasihatii Lin Nisaa’
Ummu Abdillah Al-Wadi’iyah Hafidzahallah (Puteri Syaikh Muqbil Bin Hadi Al-Wadi’i Rahimahullah)
Alih Bahasa : Fikri Abul Hassan

Disadur dari: http://www.alghuroba.org

Mulia di Akhirat dan Meraih Dunia dengan Ilmu

•September 17, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

”Hidup bahagia, mati masuk syurga” yup, pasti setiap orang ingin seperti itu. Jadi apa yang dapat kita lakukan untuk mewujudkannya?

Allah Ta’ala telah mengajarkan sebuah doa dalam firmanNya:

”Wahai Rabb kami,berilah kami kebaikan di dunia, dan kebaikan di akhirat” (QS.Al-Baqarah : 201)

Al-Hasan rahimahullah (wafat th. 110 H) berkata, ”Yang dimaksud kebaikan dunia adalah ilmu dan ibadah, dan kebaikan akhirat adalah Syurga ”Sedangkan Ibnu Wahb (wafat th.197 H) rahimahullah berkata, ”Aku mendengar Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah berkata ”Kebaikan di dunia adalah rizki yang baik dan ilmu, sedangkan kebaikan di akhirat adalah syurga”
Perhatikanlah bagaimana para ulama memegang ilmu sebagai sumber kebaikan di dunia,yang dengannya dapat diraih pula kebaikan di akhirat berupa syurga.Karena itu, hal utama yang harus kita lakukan untuk mewujudkan kebahagiaan di dunia dan akhirat adalah dengan terus menerus mengejar ilmu dengan mengikhlaskan niat karena Allah Ta’ala.Ilmu yang dimaksud adlah ilmu yang bermanfaat.

Imam Ibnu Rajab (wafat th.795 H) rahimahullah mengatakan bahwa ”Ilmu yang bermanfaat menunjukkan pada dua hal : Pertama,mengenal Allah Ta’ala dan segala pa yang menjadi hak-Nya berupa nama-nama yang indah, sifat-sifat yang mulia, dan perbuatan-perbuatan yang agung. Hal ini mengharuskaan adanya pengagungan, rasa takut,cinta,harap,dan tawakkal kepada Allah serta ridha terhadap takdir dan segala musibah yang Allah Ta’ala berikan.

Kedua, mengetahui segala apa yang dibenci dan dicintai Allah Azza wa Jalla dan menjauhi apa yang dibenci dan dimurkai olehNya berupa keyakinan, perbuatan yang lahir dan bathin. Hal ini emengharuskan orang yang mengetahuinya untukbersegera melakukan segala apa yang dicintai dan diridhoi oleh Allah Ta’ala dan menjauhi segala apa yang dibenci dan dimurkai-Nya. Apabila ilmu itu menghasilkan kedua hal ini bagi pemiliknya, maka inilah ilmu yang bermanfaat.

Kapan saja ilmu itu bermanfaat dan menancap dalam hati maka sungguh, hati itu akan tunduk dan meras patuh pada Allah Azza wa Jalla, jiwa merasa cukup dan puas dengan sedikit dari keuntungan dunia yang halal dan merasa kenyang dengannya sehingga hal itu menjadikannya qanaah dan zuhud di dunia.”

Rasululah Salallahu Allaihi Wasallam mendoakan orang-orang yang mendengarkan sabda beliau dan memahaminya dengan keindahan dan berserinya wajah. Beliau bersabda :

”Semoga Allah memberikan cahaya pada wajah orang yang mendengarkan sebuah hadist dari kami, lalu menghafalkannya dan menyampaikannya kepada orang lain. Banyak orang yang membawa fiqih namun dia tidak memahami. Dan banyak orang yang menerangkan fiqih pada orang yang lebih faham darinya. Ada tiga hal yang tidak dapat dpungkiri hati seorang muslim selama-lamanya: melakukan sesuatu dengan ikhlas karena Allah, menasehati ulul amri (penguasa) dan berpegang teguh pada jama’ah kaum muslimin,karena do’a mereka meliputi orang-orang ayng berada dibelakang mereka.”

Beliau bersabda,

”Barangsiapa yang keinginannya adalah negeri akhirat, Allah akan mengumpulkan kekuatannya,menjadikan kekayaan di hatinya dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina. Namun barangsiapa yang niatnya mencari dunia, Allah akan mencerai-beraikan urusan dunianya, menjadikan kefakiran di kedua pelupuk matanya, dan ia mendapat dunia menurut apa yang tealah ditetapkan baginya.” (Hadist Shahih diriwayatkan oleh Ahmad (V/183),ad-Darimi(I/75),Ibnu Hibban (no 72,73-Mawarid),Ibnu’Abdil Barr dalam Jaami’Bayaanil’Ilmi wa Fadhlihi(I/175-176,no.184),lafazh hadist ini milik Imam Ahmad dari Abdurrahman bin Aban bin ’Utsman radhiyallahu’anhum)

Jadi, ayo semangat menuntut ilmu..!! supaya bahagia dunia dan akhirat, insyaAllah. Jangan lupa ikhlaskan niat pada Allah Subhanahu Wata’ala.

Israil bin Yunus (wafat th.160 H) rahimahullah mengatakan,

”Barangsiapa menuntut ilmu karena Allah Ta’ala, maka ia mulia dan bahagia di dunia.Dan barangsiapa menuntut ilmu bukan karena Allah, maka ia merugi di dunia dan akhirat.”

Dan diantara doa yang Rasulullah ucapkan adalah : ”Ya Allah, aku memohon kepadaMu ilmu yang bermanfaat,rizki yang halal, dan amal yang diterima.”

Wallahu’alam bishowab

[Disarikan dari buku: Menuntut Ilmu Jalan Menuju Syurga, oleh Yazid bin Abdul Qadir Jawaz]

Disadur dari: http://www.jilbab.or.id

Puteri, Bagaimana Cermin itu?

•September 15, 2008 • 6 Komentar

Ditulis ulang oleh: Ummu ‘Umar dari Buletin Puteri (Jilbab Online)

Saat ini malam telah larut, cuaca terasa dingin dan sekitarku menjadi hening, sebening hati dan perasaan sayangku kepadamu. Walau kini tidak disampingmu, aku masih selalu ingat padamu, seperti yang kulakukan setiap waktu. Dan kini, kujalankan jari-jemariku untuk menulis sebuah surat yang hanya khusus untukmu…..bukan untuk yang lain….

Puteri..
Aku teringat akan cerita ibumu tempo hari…
Saat itu engkau masih kecil seumur bayi..
Engkau belum bisa apa-apa, sehingga untuk menarik perhatian, engkau hanya menangis ditengah malam membangunkan keluarga.

Kemudian, engkau tumbuh menjadi gadis kecil yang selalu bermanja di pangkuan Bunda. Dan waktu terus berjalan…..sehingga kini engkau telah menginjak remaja. Engkau menjadi semakin besar, pintar, dan makin banyak pengalaman hidup yang telah engkau miliki. Ah…aku pun jadi rindu ibuku…mungkin akupun seperti itu saat masih kecil.

Puteri….
Saat ini, aku sedang melukis bentuk kamarmu dibenakku. Kamar dimana kita sering berkumpul untuk bercerita banyak hal. Aku masih ingat detil kamarmu, ada almari baju, rak buku, kotak permen, dan Hmmm……cermin itu …yang selalu kau sebut sebagai cermin paling indah… Engkau memang sudah lama memilikinya, dan aku yakin engkau pasti makin suka, karena setiap hari membutuhkannya.
Puteri….. Aku teringat sesuatu tentang cermin itu. Dirumahmu, ada satu lagi cermin besar di ruang tamu. Tak jarang aku melihatmu bercermin disitu ketika engkau tergesa-gesa berangkat.Bahkan didepan kaca jendela, sering….sering sekali aku melihatmu mematut diri apakah terlihat rapi atau tidak. Agar teman-temanmu nanti tidak mengolokmu, begitu selalu katamu.Aku menduga, mungkin engkau juga sering mengaca didepan etalase pertokoan untuk bercermin. Iya nggak ?

Puteri yang amat kusayangi,,,, Jauh di lubuk hati yang paling dalam, ada yang ingin kubicarakan dengamu hari ini. Hanya sebentar saja, cukup sebentar. Nggak akan lama. Engkau ada waktu, kan?

Bukan, bukan pertanyaan bagaimana kabarmu, atau kabar teman-teman seperti yang biasanya kita bicarakan. Namun lebih dari itu. Aku ingin kita berbicara khusus mengenai diri kita,karena aku sadar bahwa semakin hari kita tumbuh semakin tinggi, bukan hanya tinggi badan kita, namun juga ketinggian pola berpikir kita. Kita bukan kanak-kanak lagi yang harus menyuruh kita begini begitu. Kini kita sudah besar, sehingga banyak yang harus kita siapkan agar makin dewasa untuk menentukan sendiri jalan hidup kita nanti.

Wahai puteri….. Hari demi hari telah kita lalui.Telah banyak perubahan yang terjadi , ‘kan? Izinkanlah aku untuk bertanya sesuatu padamu…Kalau kau pandangi dirimu di cermin indah kamarmu itu, apa yang engkau lihat disana? Apakah sesosok gadis remaja yang sudah cukup matang mengarungi hidup ataukah yang masih menjalani proses perubahan membentuk diri? Mungkin, engkau akan menjawab kedua-duanya…atau mungkin hanya salah satu jawaban…
Nggak apa-apa Puteri…Aku bisa memahaminya….

Puteri, ketika engkau didepan cermin yang indah itu….
Masih ingatkah dirimu berapa sering engkau bercermin?
Dan sadarkah engkau siapa yang muncul di cermin itu?
Ya, memang itu adalah engkau.Engkau Puteri…

Engkau yang dulu terlahir dari rahim Bunda, setelah malaikat meniup ruh dan menulis catatan tentangmu ketika engkau masih menjadi janin usia 4 bulan.

Wahai Puteri…. Ketahuilah…Kita semakin beranjak dewasa, dan telah banyak waktu yang kita lalui bersama-sama. Kukenal dirimu jauuuh lebih baik dari yang lainnya. Begitupula sebaliknya. Ada satu hal yang ingin kutanyakan lagi, “Apakah saat ini engkau telah mengenal dirimu sendiri, wahai saudaraku tercinta?Bukan sekedar mengiyakan bahwa sosok bayangan depan cermin itu adalah dirimu? ” Jawablah Puteri, tak usah engkau malu-malu…..karena ini penting. Ini penting sekali sebagai bekal hidupmu kelak, karena seperti yang kita sama-sama mengerti, sekarang ini kita sedang dalam proses mendewasakan diri…dan itu butuh bekal agar kita tidak salah arah.

Puteri sayang….. Izinkanlah aku mengatakan sesuatu kepadamu…

Ketahuilah oleh dirimu, bahwa aku dan kau sama-sama manusia, dua orang hamba yang banyak diberi karunia oleh Allah….karena memang Allah yang menciptakan diriku dan dirimu… Allah yang memenuhi kebutuhanku dan kebutuhanmu, dan Allah pula yang telah mengatur semuanya sehingga kita tumbuh segini besar. Hanya Dia, Puteri….
Ditangan-Nyalah diatur segala urusan, termasuk urusan langit, bumi, hewan, tumbuhan, dan kita para manusia…. Allah di atas langit pula yang telah menentkan bahwa kita tercipta sebagai wanita, sebagai muslimah…Dan lihatlah, betapa tingginya Allah memberi kedudukan kepada kita, sampai-sampai dalam kita suci kita, Al-Quran, Allah membuat surat khusus bernama “An-Nisa” yang artinya perempuan.

Wahai Puteri, engkau masih ingat nama surat itu bukan ? Ini adalah satu diantara sekian tanda bahwa Allah memuliakan kedudukan wanita. Kelak Insya Allah, dari rahim kita lah akan lahir ummat Islam yang banyak, sehingga di hari Akhir nanti, Nabi kita, Nabi Muhammad Shollallaahu’alayhi wa sallam akan mengatakah dengan bangga atas jumlah ummat yang banyak. Bahkan, tentang kodrat wanita, RasuluLlah pun bersabda,

“Sesungguhnya dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalehah”.

Hadits ini disampaikan oleh Imam Muslim, dan memang benar dan shahih bahwa ini perkataan Rasul. Engkau kini yakin bukan bahwa Allah dan Rasul-Nya amat menjunjung martabat kita?

Puteri yang amat kusayangi… Kuajak diriku dan dirimu…Yakinlah dengan seyakin-yakinnya bahwa Allah memilih aku dan kau untuk hadir kedunia ini dengan hikmah penciptaan yang agung ; bukan sembarangan, karena Allah Maha Kuasa mencipta apapun yang dikehendaki-Nya, sehingga mustahil bagi Allah untuk sembarangan dalam berbuat, karena Dia Maha Mengetahui dan Maha Luas ilmu-Nya.

Sekarang, cobalah pikirkan lebih dalam… Sampai detik ini, telah banyak sekali nikmat Allah yang tercurah kepada kitam sedari kita kecil sampai sekarang. Dan itu memang karena kebaikan Allah semata, bukan dari yang lain. Allah yang berkuasa berbuat kebaikan, Allah memberi nikmat sehat, ketenangan hati, teman sepergaulan yang baik, ini….itu…., tentu amat sangat banyak, sehingga aku tidak mampu menuliskan semuanya untukmu, karena aku yakin Allah selalu berbuat kebaikan kepada kita semua. Engkau ingat bukan……tempo hari kakimu tidak tergores meski berjalan di atas batu-batu. Itu adalah nikmat Allah yang mungkin terasa kecil bagi kita. Sedangkan nimat yang besar, dan yang paling besar yang mungkin kurang terpikirkan oleh kita…..adalah nikmat iman. Dengan nimat dari Allah yang satu ini, kita bisa dengan bangga menyandang predikat muslimah.

Sungguh Puteri……..tidak banyak wanita-wanita di dunia ini yang bisa dipanggil muslimah. Tengoklah ke negara-negara yang penduduknya tidak mengenal Allah sama sekali, atau mengenal Allah dengan hanya menyebut nama-Nya ketika sedang susah tertimpa bencana, atau bahkan mereka yang malah menyekutukan Allah dengan memohon bantuan kepada selain Dia. Engkau mengetahui keadaan mereka, bukan?

Semoga Allah melindungi kita supaya tidak termasuk golongan mereka. Amin.

Wahai Puteri….. Marilah bersama-sama mengucapkan syukur AlhamduliLlah atas nikmat ini…karena semakin kita mempelajari nikmat Allah dan meyakini betapa Allah Maha Mengetahui atas jiwa-jiwa ini, kita akan bisa semakin memahami hikmah mengapa aku dan kau diciptakan, dan mengapa pula kita semua harus beribadah hanya kepada-Nya…..

Ya, benar….hanya kepada-Nya, karena memang Dia satu-satunya yang berhak untuk disembah. Lain tidak, karena selain Dia hanyalah ciptaan-Nya. Sehingga kita tidak boleh menduakan-Nya dengan apapun atau siapapun. Bagaimana, Puteri ? Engkau memahami hal ini, ‘kan? Aku berharap demikian, karena bagiku, tidak ada yang lebih kuinginkan darimu, kecuali kebaikan untukmu di dunia dan akhiratmu kelah. Karena apa? itu karena aku amat sayang kepadamu…..Aku sayang sekali padamu….

Puteri tercinta, tak terasa sudah kutulis berbaris-baris surat cintaku ini kepadamu. Insya Allah, apa yang kutulis ini adalah sebuah nasehat yang tulus dari hatiku, sebuah nasehat bagiku dan bagimu, agar kita bisa menemukan sosok dewasa cermin indah itu…. karena suatu hari nanti, kita pasti dan harus lebih dewasa daripada hari ini. Dan sebaiknya memang begitu, seiring usia yang bertambah, kita mejadi lebih mengenal akan diri kita yang sebenarnya dan lebih mengerti hak-hak Allah atas diri kita.

Kuakhiri suratku ini…puteri… Semoga Allah mengaruniakan kesempatan kepadaku sehingga bisa kutulis lagi surat untukmu. Dan kuberdoa semoga Allah mengasihi diriku, dirimu, keluarga kita dan kaum muslimin semuanya. Semoga kita selalu mencintai Allah dan Allah pun mencintai kita….Amin. (Sahabat: Asy-D3in)

Rujukan :
1.Abdur Rahman , Abdul Muhsin ; Jagalah Dirimu
2.Majalah As-Sunnah edisi 08/V/1422H-2001 M

Disadur dari: http://www.jilbab.or.id

Rumus Kecantikan Wanita

•September 15, 2008 • 2 Komentar

Ditulis oleh: Ummu Zahwa

Tidak cantik = Minder dan jarang disukai orang.
Cantik = Percaya diri, terkenal dan banyak yang suka.
AH MASA SIH??

Itulah sekelumit rumus yang ada dalam fikiran wanita atau bisa juga akhwat. Sebuah rumus simple namun amat berbahaya. Darimanakah asal muasal rumus ini? Bisa jadi dari media ataupun oleh opini masyarakat yang juga telah teracuni oleh media- baik cetak maupun elektronik- bahwa kecantikan hanya sebatas kulit luar saja. Semua warga Indonesia seolah satu kata bahwa yang cantik adalah yang berkulit putih, tinggi semampai, hidung mancung, bibir merah, mata jeli, langsing, dll. Akibatnya banyak kaum hawa yang ingin memiliki image cantik seperti yang digambarkan khalayak ramai, mereka tergoda untuk membeli kosmetika yang dapat mewujudkan mimpi-mimpi mereka dan mulai melalaikan koridor syari’at yang telah mengatur batasan-batasan untuk tampil cantik.

Ada yang harap-harap cemas mengoleskan pemutih kulit, pelurus rambut, mencukur alis, mengeriting bulu mata, mengecat rambut sampai pada usaha memancungkan hidung melalui serangkaian treatment silikon, dll. Singkat kata, mereka ingin tampil secantik model sampul, bintang iklan ataupun teman pengajian yang qadarullah tampilannya memikat hati. Maka tidak heran setiap saya melewati toko kosmetik terbesar di kota saya, toko tersebut tak pernah sepi oleh riuh rendah kaum hawa yang memilah milih kosmetik dalam deretan etalase dan mematut di depan kaca sambil terus mendengarkan rayuan manis dari si mba SPG.
Kata cantik telah direduksi sedemikian rupa oleh media, sehingga banyak yang melalaikan hakikat cantik yang sesungguhnya.

Mereka sibuk memoles kulit luar tanpa peduli pada hati mereka yang kian gersang. Tujuannya? Jelas, untuk menambah deretan fans dan agar kelak bisa lebih mudah mencari pasangan hidup, alangkah naifnya. Faktanya, banyak dari teman-teman pengajian saya yang sukses menikah bukanlah termasuk wanita yang cantik ataupun banyak kasus yang muncul di media massa bahwa si cantik ini dan itu perkawinannya kandas di tengah jalan. Jadi, tidak ada korelasi antara cantik dan kesuksesan hidup!.

Teman-teman saya yang sukses menikah walaupun tidak cantik-cantik amat tapi kepribadiannya amat menyenangkan, mereka tidak terlalu fokus pada rehab kulit luar tapi mereka lebih peduli pada recovery iman yang berkelanjutan sehingga tampak dalam sikap dan prinsip hidup mereka, kokoh tidak rapuh. Pun, jika ada teman yang berwajah elok mereka malah menutupinya dengan cadar supaya kecantikannya tidak menjadi fitnah bagi kaum adam dan hanya dipersembahkan untuk sang suami saja, SubhanAlloh.

Satu kata yang terus bergema dalam hidup mereka yakni bersyukur pada apa-apa yang telah Alloh berikan tanpa menuntut lagi, ridho dengan bentuk tubuh dan lekuk wajah yang dianugerahkan Alloh karena inilah bentuk terbaik menurut-Nya, bukan menurut media ataupun pikiran dangkal kita. Kalau kita boleh memilih, punya wajah dan kepribadian yang cantik itu lebih enak tapi tidak semua orang dianugerahi hal semacam itu, itulah ke maha adilan Alloh, ada kelebihan dan kekurangan pada diri tiap orang. Dan satu hal yang pasti, semua orang bertingkah laku sesuai pemahaman mereka, jika kita rajin menuntut ilmu agama InsyaAlloh gerak-gerik kita sesuai dengan ilmu yang kita miliki.

Demikian pula yang terjadi pada wanita-wanita yang terpaku pada kecantikan fisik semata, menurut asumsi saya, mereka merupakan korban-korban iklan dan kurang tekun menuntut ilmu agama, sehingga lahirlah wanita-wanita yang berpikiran dangkal, mudah tergoda dan menggoda. Mengutip salah satu hadist, Rasulullah Shalallahu ’alaihi wa sallam bersabda :

“Siapa yang Alloh kehendaki kebaikan baginya, Alloh akan pahamkan ia dalam agamanya”(Shahih, Muttafaqun ‘alaihi).

Hadist diatas dijelaskan oleh Syaikh Ibnu Baz bahwa ia menunjukkan keutamaan ilmu. Jika Alloh menginginkan seorang hamba memperoleh kebaikan, Alloh akan memahamkan agama-Nya hingga ia dapat mengetahui mana yang benar dan mana yang bathil, mana petunjuk mana kesesatan. Dengannya pula ia dapat mengenal Rabbnya dengan nama dan sifat-sifat-Nya serta tahu keagungan hak-Nya. Ia pun akan tahu akhir yang akan diperoleh para wali Alloh dan para musuh Alloh.

Syaikh Ibnu Baz lebih lanjut juga mengingatkan betapa urgennya menuntut ilmu syari’at:

“Adapun ilmu syar’i, haruslah dituntut oleh setiap orang (fardhu ‘ain), karena Alloh menciptakan jin dan manusia untuk beribadah dan bertaqwa kepada-Nya. Sementara tidak ada jalan untuk beribadah dan bertaqwa kecuali dengan ilmu syar’i, ilmu Al-Qur’an dan as Sunnah”.

Dus, sadari sejak semula bahwa Alloh menciptakan kita tidak dengan sia-sia. Kita dituntut untuk terus menerus beribadah kepadaNya. Ilmu agama yang harus kita gali adalah ilmu yang Ittibaurrasul (mencontoh Rasulullah) sesuai pemahaman generasi terbaik yang terdahulu (salafusshalih), itu adalah tugas pokok dan wajib. Jika kita berilmu niscaya kita akan mengetahui bahwa mencukur alis (an-namishah), tatto (al-wasyimah), mengikir gigi (al-mutafallijah) ataupun trend zaman sekarang seperti menyambung rambut asli dengan rambut palsu (al-washilah) adalah haram karena perbuatan-perbuatan tersebut termasuk merubah ciptaan Alloh. Aturan-aturan syari’at adalah seperangkat aturan yang lengkap dan universal, sehingga keinginan untuk mempercantik diri seyogyanya dengan tetap berpedoman pada kaidah-kaidah syara’ sehingga kecantikan kita tidak mendatangkan petaka dan dimurkai Alloh.

Apalah gunanya cantik tapi hati tidak tentram atau cantik tapi dilaknat oleh Alloh dan rasul-Nya, toh kecantikan fisik tidak akan bertahan lama, ia semu saja. Ada yang lebih indah dihadapan Alloh, Rabb semesta alam, yaitu kecantikan hati yang nantinya akan berdampak pada mulianya akhlaq dan berbalaskan surga. Banyak-banyaklah introspeksi diri (muhasabah), kenali apa-apa yang masih kurang dan lekas dibenahi. Jangan ikuti langkah-langkah syaitan dengan melalaikan kita pada tugas utama karena memoles kulit luar bukanlah hal yang gratis, ia butuh waktu dan biaya yang tidak sedikit. Bukankah menghambur-hamburkan uang (boros) adalah teman syaitan?. Jadi, mari kita ubah sedikit demi sedikit mengenai paradigma kecantikan.

Faham Syari’at = CANTIK
Tidak Faham Syari’at = Tidak CANTIK sama sekali!
Bagaimana? setuju?.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah Shalallahu ’alaihi Wa sallam bersabda:
”Innallaha la yanzhuru ila ajsamikum wa la ila shuwarikum walakin yanzhuru ila qulubikum”
”Sesungguhnya Allah tidak melihat fisik kalian dan rupa kalian akan tetapi Allah melihat hati dan kalian” (HR. Muslim)

Mari kita simak syair indah dibawah ini:

Banyak lebah mendatangi bunga yang kurang harum
Karena banyaknya madu yang dimiliki bunga
Tidak sedikit lebah meninggalkan bunga yang harum karena sedikitnya madu

Banyak laki-laki tampan yang tertarik dan terpesona oleh wanita yang kurang cantik
Karena memiliki hati yang cantik
Dan tidak sedikit pula wanita cantik ditinggalkan laki-laki karena jelek hatinya

Karena kecantikan yang sejati bukanlah cantiknya wajah tapi apa yang ada didalam dada
Maka percantiklah hatimu agar dicintai dan dirindukan semua orang.

Wallahu ‘alam bisshowab.

[Maroji’: 297 Larangan Dalam Islam dan Fatwa-Fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, Syaikh Ali Ahmad Abdul ‘Aal ath-Thahthawi.]

Disadur dari: http://www.jilbab.or.id

Untukmu Sahabat

•September 14, 2008 • 2 Komentar

Malam ini sahabat, biarkan bulan bintang melihat aku terpekur di jendela kamar

Ukir kenangan indah mulai samar

Betapa indah cerita tercipta mebuat iri seisi dunia

Kau dan aku rajut ikatan kita tak akan terpisahkan

Adakah yang salah di antara kita

Ataukah…semua hanya prasangka semata

Kisah yang terjalin selama ini tak membuat kita satu hati

Malam ini aku berkhayal

Kan mengulang semua dari awal

Persahabatan seindah ini kapankah terulang kembali

Disadur dari: seorang ikhwan (judul dari Abu Mochas)

Meraih Keselamatan, Menangkal Bencana

•September 14, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

oleh : Abu Bakar bin Muhammad Ali al-Atsar

doa-meraih-keselamatan.JPG

Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ‘afiat di dunia dan akhirat. Ya Allah, aku memohon ampunan dan ‘afiat dalam agamaku, duniaku, keluargaku dan hartaku. Ya Allah, tutupilah auratku dan berilah keamanan dari rasa takutku. Ya Allah, jagalah aku dari depanku, belakangku, kananku, kiriku, atasku, dan aku berlindung dengan kebesaran-Mu dari terbenamnya aku dari arah bawahku.

(Dikeluarkan oleh Abu Dawud: 5074, Ibnu Majah: 3871, dan dishohihkan oleh al-Albani dalam Shohih ibnu Majah:3121)

‘Afiat adalah keamanan yang diberikan Allah bagi hamba-Nya dari segala adzab dan bencana dengan menghindarkannya dan menjaganya dari semua jenis musibah, penyakit, kejelekan, dan perbuatan dosa (lihat Fiqhul Ad’iyyah wal Adzkar oleh Syaikh Abdurrozzaq al al-Badr, hlm. 28 )

FAEDAH :

1. Ibnu Umar radiyallaahu ‘anhu, tatkala menghadirkan hadits ini berkata : “Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam tidak pernah meninggalkan doa ini ketika pagi dan sore hari. ”

2. Urgensi dan keutamaan do’a ini ditandai tatkala Abbas radiyallaahu ‘anhu, paman Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam, pernah meminta kepada beliau do’a yang dengannya ia memohon kepada Allah maka Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda (artinya) :

“Wahai Abbas paman Rasulullah, mintalah afiat di dunia dan akhirat”

(HR. Tirmidzi : 3514, lihat Shohih Tirmidzi : 2790).

Berkata al-Mubarokfuri rahimahullah: ” Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam menempatkan pamannya pada posisi bapaknya dan beliau melihat hak pamannya sebagaimana hak seorang anak kepada orang tuanya. Dalam pengkhususan beliau dengan sekedar menyuruh pamannya memohon afiat memberikan lecutan motivasi untuk senantiasa membaca doa yang agung ini untuk bertawassul kepada Alloh dengannya dan meminta perlindungan dalam semua urusan.” (Tuhfatul Ahwadzi : 9/348)

Nabi pernah berdiri di atas mimbar pada tahun pertama hijrah lalu beliau menangis kemudian berkata :

“ Mintalah kepada Allah ampunan dan afiat, sesungguhnya seseorang tidaklah dianugerahi setelah keyakinan yang lebih baik dari ‘afiat.”

(HR. Tirmidzi :358, Shohih al-Jami’ : 3632).

Dijelaskan oleh al-Mubarokfuri rahimahullah mengapa beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam menangis : Ada yang mengatakan bahwa beliau menangis karena ia mengetahui peristiwa yang akan menimpa ummatnya berupa fitnah dan mendominasinya ambisi akan harta dan kedudukan maka beliau menyuruh mereka untuk meminta ampunan dan ‘afiat agar mereka terhindar dari segala macam fitnah.” (Tuhfatul Ahwadzi : 10/3)

3. Sebuah peringatan bagi ummat ini..

Diriwayatkan dari Aisyah rhadiyallaahu ‘anha bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

“Akan menimpa akhir umat ini pembenaman ke bumi, pengubahan bentuk ke bentuk yang lebih jelek dan pelemparan.” Aku (Aisyah) berkata: “Apakah kita dibinaskan sekalipun masih ada orang sholih di antara kami? “ Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Ya, jika telah merebak kemaksiatan.”

(Dikeluarkan oleh Tirmidzi: 2185, Ibnu Majah:4062, liat Shohih Tirmidzi: 2185).

Dari Shofiyyah rhadiyallaahu ‘anha bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

“Tidak henti-hentinya manusia memerangi kabah ini sampai ada suatu pasukan besar menyerangnya. Tatkala mereka sampai di Baida’ (sebuah tempat yang rata) mereka dibenamkan awal dan akhirnya dan tidak selamat pula di tengah-tengahnya.

(Dikeluarkan oleh Bukhori dalam Kitabul Hajji: 49, lihat Shohih Tirmidzi : 2184 )”

Telah lewat pula pelajaran bagi kita apa yang menimpa Qarun dan pengikutnya, dan seorang Bani Israil yang berjalan dengan ujub ( sombong ) dan memanjangkan pakaian bawahnya hingga ia ditenggelamkan ke dalam bumi sampai hari kiamat ([bisa dilihat dalam – red] HR. Bukhari : 5790)

Wallaahul Musta’an.

[Diambil dari Majalah al-Mawaddah edisi ke–8 tahun ke-1, hal 20 dalam bab “Benteng Diri Muslim” dengan sedikit perubahan yang tidak menghilangkan maknanya.]

Disadur dari: http://www.jilbab.or.id